Wednesday, January 2, 2013

#2

Wina sadar. Makin hari dia makin tau jelas apa yang lagi ia rasakan sekarang. Perasaan suka itu makin menggerogoti Wina. Jatuh cinta memang tidak salah. Tapi kadang-kadang waktu dan keadaan yang mebuat jatuh cinta itu salah. Contohnya sekarang. Wina sadar ia telah jatuh hati kepada mantan pacar temannya, Febri's ex-Akbar namanya.Padahal saat ini Wina tengah pdkt dengan seorang cowok, bernama Dito, lucunya Akbar ini yang nyomblangin Wina sama Dito. Tapi semesta malah membuat Wina suka pada Akbar.Tapi entah mengapa perasaan ini dianggap Wina berbeda. Ia terus menahan dan memendam perasaanya itu,supaya tidak ada pihak yang akan menjadi canggung. Semakin ia menahan rasanya kepada Akbar, malah semakin akrab mereka. Wina tidak bisa mengartikan keakraban mereka. Tapi ia akan selalu ingat momen-momen tersebut. Menjadi 1 tim di sebuah acara, menjadi teman sharing, dan lain-lain. Semakin sulit pula ia memendam rasa itu.



Hingga pada akhirnya, setelah acara di tempat bimbingan belajarnya usai. Wina mencurahkan apa yang ia rasakan  kepada gurunya yang masih muda. Sedikit tenang hatinya setelah curhat, Wina pun bergegas pulang. Ia merenung di kamarnya. Merenungi solusi dari Mba Evi. Tiba-tiba blackberrynya berdering, ternyata itu chat dari Akbar. Refleks Wina tersenyum dan segera membalas chat dari Akbar, mereka chatting hingga larut malam dan berlanjut hingga esok harinya.
"Haaaaah. Kenapa gue malah suka sih sama lo?" Gumam Wina.
 .................
keesokan harinya.
BRAAAAAK!!!! Wina membanting pintu kamarnya dengan kasar. Dan menjatuhkan dirinya ke kasur dengan gusar, air matanya tak dapat lagi dibendung. Setelah mengetahui bahwa Akbar-in-a-relationship- dengan orang lain, membuat Wina seperti runtuh dunianya.
 "Kenapa gue harus sedih liat dia jadian sih? Please, ini bukan hak gue...." ucap Wina lirih.
Kini Wina hanya harus menghilangkan rasa sukanya terhadap Akbar.
..................

Di tempat les Wina
 "Win, tadi mbak ngobrol dengan Akbar, ngomongin Wina." Kata Mbak Evi.
"Ngomongin apa mbak?"
"Mbak nanya ke dia emang bener dia udah jadian apa belum."
"Beneran mbak, nih Wina aja potek-potek."
"Iya, mbak juga bilang kalau Wina potek ke Akbar."
"Apaaaaa????! Kenapa mbak bilang gitu? Dia jadi tau dong Wina suka. Ah mbak....." Keluh Wina.
"Eeeeh, denger dulu. Mau tau gak dia bilang apa waktu tau Wina suka?" Bujuk Mbak Evi.
"Apaan emang mbak?"
"Katanya.... 'yah coba dia bilang dari dulu atau nunjukin kalo suka, dia ga keliatan suka sih mbak' gitu Win."
"Gitu mba? Ya Allah mbak :( :( :(" jawab Wina dengan wajah menyesal sedih hancur.

Setelah curhat dengan mbak Evi, ia segera pulang. Ia melangkah dengan gontai. Dan bergumam sendiri.
"Jadi gue telat? gue telat ngomong ini?"
"Kalo gue ngomong pasti dia ga bakal jadian."
"Ah! kenapa gue ga ngomong dari awal siiiih?" Wina menyalahkan diri sendiri.
"Eh tapi kan gue cewek, masa iya ngomong duluan." Ia terus bergumam sendiri seperjalanan pulang.
"Tapi kalo udah gini.. nyesek. Ah gue musti kasih tau temen gue biar ga bernasip sama kaya gue. Menyedihkan banget."
 END
Jadi intinya, kalo lo suka sama orang, mending di utarain deh daripada nyesel gak karuan kaya si Wina di cerpen gue.Ga usah takut sama jawaban yang bakal dikasih, yang penting lo udah bilang dan bakal tenang. Hehehehe. Thanks for reading.

0 comments:

Post a Comment